Sintaksis

Sintaksis

audara, kajian sintaksis bahasa Indonesia merupakan kelanjutan dari kajian fonologi dan morfologi bahasa Indonesia yang telah Anda pelajari pada subunit 1 sebelumnya. Istilah sintaksis berasal dari bahasa Belanda syntaxis.

Dalam bahasa Inggris digunakan istilah syntax. Sintaksis ialah bagian atau cabang dari ilmu bahasa yang membicarakan seluk beluk wacana, kalimat, klausa, dan frase (Ramlan, 2001). Tidak berbeda dengan pendapat tersebut, Tarigan (1984) mengemukakan bahwa sintaksis adalah salah satu cabang dari tatabahasa yang membicarakan struktur kalimat, klausa, dan frasa, misalnya:

Saya dan Ali sedang menggambar lukisan pemandangan ketika nenek

Aminah sedang memasak nasik goreng

Contoh di atas dapat diklasifikasikan atas :

satu kalimat :

Saya dan Ali sedang menggambar lukisan pemandangan ketika

nenek Aminah sedang memasak nasik goreng

dua klausa :

(1) Saya dan Ali sedang menggambar lukisan pemandangan;

(2) ketika nenek Aminah sedang memasak nasik goreng

enam frasa :

(1) Saya dan Ali

(2) sedang menggambar

(3) lukisan pemandangan

(4) nenek Aminah

(5) sedang memasak

(6) nasik goreng

Frase Bahasa Indonesia

Untuk memudahkan pemahaman Anda mengenai frase, perhatikan

kalimat berikut yang dicontohkan oleh Ramlan (1988).

5 – 4 Unit 5

Dua orang mahasiswa sedang membaca buku baru di perpustakaan.

Kalimat itu terdiri dari satu klausa, yaitu Dua orang mahasiswa sedang membaca buku baru diperpustakaan. Selanjutnya, klausa terdiri dari empat unsur yang lebih rendah tatarannya, yaitu dua orang mahasiswa, sedang membaca, buku baru, dan di perpustakaan. Unsur-unsur itu ada yang terdiri dari dua kata, yakni sedang membaca, buku baru, di perpustakaan, dan ada yang terdiri dari tiga kata, yaitu dua orang mahasiswa. Di samping itu, masingmasing unsur itu menduduki satu fungsi. Dua orang mahasiswa menduduki fungsi S, sedang membaca menduduki fungsi P, buku baru menempati fungsi O, dan di perpustakaan menempati fungsi KET. Demikianlah, unsur klausa yang

terdiri dari dua kata atau lebih yang tidak melampaui batas fungsi itu merupakan satuan gramatik yang disebut frase. Jadi, frase ialah satuan gramatik yang terdiri dari dua kata atau lebih yang tidak melampaui batas fungsi unsur klausa.

Selain contoh di atas, Supriyadi, dkk. (1992) menguraikan cara mengenal

frase bahasa Indonesia seperti berikut.

Perhatikan unsur setiap fungsi yang terdapat kalimat-kalimat berikut:

(1) Saya guru. (SP)

(2) Ayah saya guru. (SP)

(3) Adik teman saya guru bahasa Indonesia. (SP)

Unsur manakah yang mempunyai fungsi S dan yang mempunyai fungsi P pada kalimat di atas? Selanjutnya, hitunglah jumlah kata yang terdapat pada setiap kalimat di atas. Sesuai dengan struktur fungsional ketiga kalimat itu, hasil kerja Anda dapat digambarkan dalam bentuk tabel berikut.

No

Fungsi

S P

1 Saya guru

2

ayah saya

guru

ayah saya

3

adik teman saya guru bahasa Indonesia

adik

teman saya

guru

bahasa Indonesia

teman saya bahasa Indonesia

Berapakah jumlah kata pada masing-masing kalimat di atas? Jawabannya jelan, bukan? Setiap kata merupakan unsur terkecil satuan sintaktik. Artinya, dalam bidang sintaktik kata-kata tersebut tidak perlu diuraikan lagi atas unsur unsurnya yang lebih kecil. Mengapa? Ingat kembali struktur fonologi dan morfologi.

Pada kalimat (2) dan (3) terdapat kelompok kata: ayah saya, adik teman

saya, teman saya, guru bahasa Indonesia, bahasa Indonesia. Kelompok tersebut merupakan satuan gramatis, dan pembahasannya berada dalam bidang sintaksis. Karena itu, satuan gramatis semacam itu termasuk satuan sintaktik.

Satuan sintaktik di atas ada yang menduduki fungsi S: ayah saya, adik

teman saya; fungsi P: guru bahasa Indonesia. Ada pula yang hanya menduduki sebagian fungsi dari kalimat: teman saya (bagian S), bahasa Indonesia (bagian P). Masing-masing tidak melewati batas fungsi, baik S maupun P. Satuan sintaktik semacam ini disebut frase. Jadi, dapat disimpulkan bahwa frase adalah kelompok kata yang mendududuki suatu fungsi (subjek, predikat, pelengkap, objek, dan keterangan) dan kesatuan makna dalam kalimat.

Jenis Frase

Ramlan (1981) membagi frase berdasarkan kesetaraan distribusi

unsur unsurnya atas dua jenis, yakni frase endosentrik dan frase eksosentrik.

(1) Frase endosentrik

Frase endosentrik yang distribusi unsur-unsurnya setara dalam

kalimat. Frase endosentrik terbagi atas tiga jenis:

(a) frase endosentrik koordinatif yakni frase yang unsur-unsurnya setara,

dapat dihubungkan dengan kata dan, atau, misalnya :

– rumah pekarangan

– kakek nenek

– suami isteri

(b) frase endosentrik atributif, yakni frase yang unsur-unsurnya tidak

setara sehingga tak dapat disisipkan kata penghubung dan, atau,

misalnya:

– buku baru

– sedang belajar

– belum mengajar

(c) Frase endosentrik apositif, yakni frase yang unsurnya bisa saling

menggantikan dalam kalimat tapi tak dapat dihubungan dengan kata dan dan atau

Mmisalnya:

Almin, anak Pak Darto sedang membaca

– ,anak Pak Darto sedang belajar

Ahmad, – sedang belajar

(2) Frase eksosentrik adalah frase yang tidak mempunyai distribusi yang sama dengan semua unsurnya, misalnya:

di pasar

ke sekolah

dari kampung

Frase ditinjau dari segi persamaan distribusi dengan golongan atau kategori kata, frase terdiri atas: frase nominal, frase verbal, frase ajektival, frase, pronomina, frase numeralia. (Depdikbud, 1988).

(1) Frase verbal adalah satuan bahasa yang terbentuk dari dua kata atau lebih dengan verba sebagai intinya dan tidak merupakan klausa.

Misalnya:

– Kapal lauat itu sudah belabuh

– Bapak saya belum pergi.

– Ibu saya sedang mencuci

(2) Frase nominal adalah dua buah kata atau lebih yang intinya dari dari nominal atau benda dan satuan itu tidak membentuk klausa.

Misalnya:

– Kakek membeli tiga buah layang-layang.

– Amiruddin makan beberapa butir telur itik.

– Syarifuddin menjual tigapuluh kodi kayu besi

(3) Frase ajektival adalah satuan gramatik yang terdiri atas dua kata atau lebih sedang intinya adalah ajektival (sifat) dan satuan itu tidak membentuk

klausa, misalnya:

– Ibu bapakku sangat gembira

– Baju itu sangat indah

– Mobil ferozamu baru sekali

(4) Frase pronomina adalah dua kata atau lebih yang intinya pronomina dan hanya menduduki satu fungsi dalam kalimat.

Misalnya :

Saya sendiri akan pergi ke pasar

Kami sekalian akan bekunjung ke Tator

Kamu semua akan pergi studi wisata di Tator

(5) Frase numeralia adalah dua kata atau lebih yang hanya menduduki satu fungsi dalam kalimat namun satuan gramatik itu intinya pada numeralia.

Misalnya:

Tiga buah rumah sedang terbakar

Lima ekor ayam sedang terbang

Sepuluh bungkus kue akan dibeli

Klausa Bahasa Indonesia

Suatu ujaran yang terdiri atas subjek, predikat, objek, dan keterangan, misalnya Saya sedang makan kue di rumah merupakan sebuah klausa sekaligus sebuah kalimat, yakni kalimat tunggal. Akan tetapi, ujaran Ibu sedang mencuci piring ketika Ayah pulang dari pasar bukan sebuah klausa tetapi kalimat,

yakni kalimat majemuk. Hal tersebut berdasar pada definisi yang dikemukakan oleh Kridalaksana (1982:85) bahwa “klausa adalah satuan gramatikal berupa kelompok kata yang sekurang-kurangnya tediri dari subjek dan predikat dan mempunyai potensi untuk menjadi kalimat.” Pengertian yang sama dikemukakan oleh Ramlan (1981:62) sebagai berikut

“Klausa dijelaskan sebagai satuan gramatik yang terdiri atas dari P, baik disertai S, O, PEL, dan KET atau tidak. Dengan ringkas klausa ialah (S) P (O), (PEL) (KET). Tanda kurung menandakan bahwa

apa yang terletak dalam kurung itu bersifat manasuka, artinya boleh ada, boleh juga tidak ada.”

Berdasarkan pengertian di atas, klausa adalah satuan gramatik yang unsur-usurnya minimal terdiri atas Subjek-Predikat dan maksimal unsurnya terdiri atas Subjek-Predikat-Objek-Pelengkap-Keterangan

Misalnya:

Saya makan

Saya sedang makan nasi

Saya sedang makan nasi kemarin

Saya sedang memasakkan nasi kakakku

Jenis Klausa

Klausa dilihat dari segi kategori kata atau frasa yang menduduki fungsi Predikat terdiri atas klausa: nominal, klausa verbal, klausa bilangan, dan klausa depan. ( Ramlan,1981).

(1) Klausa nominal adalah klausa yang predikatnya terdiri dari kata atau frasa golongan nomina.

Misalnya:

– Ia guru IPA

Yang dibeli pedagang itu kayu

 

(2) Klausa verbal adalah klausa yang predikatnya terdiri dari kata atau frasa kategori verbal, dan klausa vebal terbagi atas empat jenis, yakni:

(a) Klausa verbal yang ajektif adalah klausa yang predikatnya dari kata golongan verbal yang termasuk kategori sifat sebagai pusatnya.

Misalnya:

– Rumahnya sangat luas

– Motornya sangat mahal

– Rumahnya indah sekali

(b) Klausa verbal intransitif adalah klausa yang predikatnya dari kata golongan kata kerja intransitif sebagai unsur intinya.

Misalnya:

– Burung merpati sedang terbang di angkasa

– Adikku sedang bermain-main di lapangan

– Pesawat Lion Air belum mendarat di Lanud Hasanuddin

(c) Klausa verbal yang aktif adalah klausa yang predikatnya dari kata golongan verbal yang transitif sebagai unsur intinya.

Misalnya:

– Ibuku sedang mencuci piring

– Pamanku sedang mengajarkan IPS

– Guru-guruku sedang mengikuti pelatihan PIPS

(d) Klausa verbal yang reflektif adalah klausa yang predikatnya dari kata verbal yang tergolong kata kerja reflektif.

Misalnya:

– Mereka sedang mendinginkan diri

– Anak-anak itu sedang menyelamatkan diri

Kakek Ady telah mengobati peenyaakinya

(e) Klausa verbal yang resiprok adalah klausa yang predikatnya dari kata golongan verbal yang termasuk kata keja resiprok.

Misalnya:

– Mereka saling melempar batu karang.

– Mereka tolong menolong di sungai

– Anak-anak itu ejek-mengejek di sekolah

(3) Klausa bilangan adalah klausa yang predikatnya dari kata atau frasa golongan bilangan.

Misalnya:

– Kaki meja itu empat buah

– Mobil itu delapan rodanya.

– Rumah panggung itu duapuluh tiangnya

(4) Klausa depan adalah klausa yang predikatnya dari kata atau frasa depan yang diawali kata depan sebagai penanda.

Misalnya:

– Baju dinas itu untuk pegawai pemda.

– Mobil itu dari Amerika.

Makanan lezat itu buat adik-adikmu.

Kalimat Bahasa Indonesia

Ahli tatabahasa tradisional menyatakan bahwa kalimat adalah satuankumpulan kata yang terkecil yang mengandung pikiran yang lengkap.

Misalnya, “Saya makan nasi.” Defenisi tersebut tidak universal karena kadangkala ada kalimat yang terdiri atas satu kata tetapi maknanya dapat dipahami secara lengkap, misalnya Pergi! (pergi dari sini sekarang juga).

Keraf (1984:156) mendefinisikan kalimat sebagai satu bagian dari ujaran yang didahului dan diikuti oleh kesenyapan*), sedang intonasinya menunjukkan bagian ujaran itu sudah lengkap. Pengertian tersebut sejalan dengan yang dikemukakan oleh Kridalaksana (1982:72) bahwa “kalimat adalah satuan bahasa yang secara relatif berdiri sendiri, mempunyai pola intonasi final dan secara aktual dan potensial terdiri dari klausa. Misalnya:

Diam!

Amin membeli kue di pasar.

Selain pendapat tersebut, dalam Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (1988) dinyatakan bahwa kalimat adalah bagian terkecil ujaran atau teks (wacana) yang mengungkapkan pikiran yang utuh secara kebahasaan. Dalam wujud lisan, kalimat diiringi oleh alunan titinada, disela oleh jeda, diakhiri oleh intonasi selesai, dan diikuti oleh kesenyapan yang memustahilkan adanya perpaduan atau asimilasi bunyi. Dalam wujud tulisan, kalimat dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik, tanda tanya, atau tanda seru.

 

Jenis Kalimat

Dari segi bentuk, kalimat dapat dikelompokkan atas dua jenis: (a)kalimat tunggal dan (b) kalimat majemuk. Kedua jenis kalimat tersebut masingmasing terbagi atas beberapa jenis. Agar lebih jelas, silakan perhatikan skema berikut.

1. Kalimat Tunggal

Kalimat tunggal adalah kalimat yang hanya terdiri atas satu pola (SP, SPO, SPOK) atau kalimat yang hanya terdiri atas satu klausa.

Contoh:

– Dia pergi.

– Dia melempar mangga.

– Ahmad pergi ke pasar kemarin sore.

2. Jenis Kalimat tunggal

Jenis kalimat tunggal terdiri atas lima macam, yakni kalimat nominal, kalimat ajektival, verbal, dan kalimat preposisional (Depdikbud, 1988). Kelima jenis kalimat tunggal tersebut adalah sebagai berikut.

(1) Kalimat nominal yakni kalimat tunggal yang predikatnya dari kata benda.

Misalnya:

– Ibuku petani sawah

Jenis

kalimat

Kalimat

Tunggal

bentuk

makna

K. Nominal

K. Verbal

K. Ajektival

K. preposisi

intransitif

ekatransitif

dwitransitif

pasif

semitransitif

berita tanya perintah seru

Kalimat

Majemuk

Majemuk Setara : penambahan, berlawanan, pemilihan, sebab

Kalimat Majemuk bertingkat

Kalimat majemuk campuran

 

– Ayahku pegawai kantor pajak.

– Kakakku tukang kayu.

(2) Kalimat verbal yakni kalimat tunggal yang predikatnya dibentuk dari kata kerja/ verbal. Kalimat verbal terdiri atas lima macam yakni kalimat verbal intransitif, ekatransitif, dwitransitif, semitransitif, dan pasif

(a) Kalimat intransitif adalah kalimat tunggal yang prediktnya tidak memerlukan objek, misalya:

Pak desa belum pergi ke kantor

Ibunya sedang berenang di kolam

Adik-adikku telah belajat matematika.

(b) Kalimat ekatransitif, yakni kalimat tunggal yag predikatnya hanya memerlukan objek tanpa diikuti pelengkap.,misalnya

Saya makan nasi goreng

Ibu mencuci pakaian

(c) Kalimat dwitransitif adalah kalimat tunggal yang predikatnya memerlukan objek dan pelengkap, misalnya:

Ali membelikan adiknya baju tadi malam

Nurhani memasakkan nasi suaminya kemarin.

– Suwarni mendengakan neneknya bicara di kamar

(d) Kalimat semitransitif adalah kalimat tunggal yang predikatnya dari semitransitif, misalnya

– Alimuddin kehilangan uang milyaran kemarin

Rumah Pak Desa kemasukan pencuri.

– Ibu Aminah kedatangan tamu dari Jakarta

(e) Kalimat pasif adalah kalimat tunggal yang predikatnya biasanya dari kata kerja berawalan di- , misalnya

– Rumah itu dibeli oleh Pak Alimin Syahid.

Motor itu dijual oleh Toko Mandala.

Persoalan itu telah diselesaikan oleh Camat Makassar

(f) Kalimat ajektival yakni kalimat tunggal yang predikatnya dari kata sifat atau ajektival, misalnya:

Buku bahasa Inggrisku sangat tebal,

Rumahku besar sekali

Keluarga itu sangat sopan dan bijaksana

(g) Kalimat preposisional yakni kalimat tunggal yang predikatnya dari kata depan atau preposisi, misalnya:

Tempat tinggalnya di Makasar

Beras ciliwung itu dari Sidrap

Wesel pos ini untuk Miranda

Di samping itu, Menurt (Keraf, 1982) kalimat tunggal dilihat dari segi maknanya dapat dikelompokkan atas empat macam, yakni:

(1) kalimat berita,

(2) kalimat tanya,

(3) kalimat perintah, dan

(4) kalimat seru.

Kalimat berita

Kalimat berita adalah kalimat yang digunakan bila kita ingin mengutarakan suatu peristiwa atau kejadian yang kita alami dan atau yang dialami orang lain.

Misalnya:

Ali pergi ke Jakarta kemarin.

Jalan itu sangat licin.

Saya mau berangkat ke Jakarta besok pagi.

Kalimat tanya.

Kalimat tanya, kalimat yang maksudnya atau berfungsi untuk menanyakan sesuatu, yang di dalamnya terdapat tiga kemungkinan ciri:

(1) mengunakan intonasi tanya, dan atau

(2) menggunakan kata tanya, dan atau

(3) menggunakan partikel -kah.

Misalnya, seperti berikut.

Ibu datang?

Kapan Ibu datang?

Akankah ibu datang?

Jenis kata tanya yang biasa digunakan dalam kalimat tanya dapat dikelompokkan menurut sifatnya, sebagai berikut:

(a) Untuk menanyakan benda/hal: apa, untuk apa, tentang apa.

Misalnya:

Apa yang kamu cari di sini?

Untuk apa kamu bekerja siang dan malam?

Tentang apa yang masih belum jelas bagimu?

(b) Untuk menanyakan manusia: siapa, dengan siapa, untuk siapa.

Misalnya:

Siapa yang kaucari kemarin sore?

Dengan siapa Anda pergi ke Jakarta?

Untuk siapa Anda bekerja keras selama ini?

(c) Untuk menanyakan jumlah: berapa, berapa banyak.

Misalnya:

Berapa buku yang Anda perlukan bulandepan?

Berapa banyak uang yang akan kaupinjam sekarang?

(d) Untuk menanyakan pilihan: mana, yang mana,

Misalnya:

Mana yang kausenangi, membeli baju atau celana?

Yang mana kau pilih , belajar di Unhas atau di UNM?

(e) Untuk menanyakan tempat: di mana, ke mana, dari mana.

Misalnya:

– Di mana engkau akan tiggal bulan depan?

– Ke mana Dia akan pergi merantau?

– Dari mana Amin pergi baru sekarang kelihatan?

(f) Untuk menanyakan temporal: bila, kapan, bilamana, apabila.

Misalnya:

Bila dia selesai studinya di UGM?

Kapan Kamarudin menjadi dosen IPS di UNJ?

Bilamana Hamid menyelesaikan pembangunan rumahnya?

(g) Untuk menanyakan kausalitas: mengapa, apa sebab, akibat apa.

Misalnya:

Mengapa Anda tidak mau menjadi guru?

Apa sebabanya Anda jarang pergi ke kampung halamannya?

Akibat apa yang ditimbulkan jika malas belajar di masa muda?

Kalimat tanya terdiri atas tiga macam:

(1) kalimat tanya biasa: kalimat yang benar-benar menanyakan sesuatu.

(2) kalimat tanya retoris: kalimat yang menanyakan menggunakan ciri kalimat tanya tetapi tidak perlu dijawab. Kalimat ini biasa dipakai orang yang berpidato sebagai cara untuk menarik perhatian pendengar.

(3) kalimat yang senilai perintah: bentuknya bertanya tetapi maksudnya menyuruh, misalnya “Apakah jendela itu bisa dibuka sekarang?”

Kalimat Perintah

Kalimat perintah adalah kalimat yang maksudnya menyuruh orang lain melakukan sesuatu.

Misalnya:

Buatlah satu kalimat yang berpola SPOK!

Pergilah ke sekolah!

Carilah pekerjaan apa saja, yang penting halal.

Kalimat perintah mempunyai beberapa jenis:

(1) Suruhan

Misalnya:

Pergi dari sini!

Makan obat dahulubaru ke sekolah!

Angkat segera barang itu!

(2) Permintaan

Misalnya:

Tolong bawa surat ini ke kantor pos!

Bisakah Anda buatkan lukisan pemandangan!

Mohon buatkan meja kayu!

(3) Memperkenankan

Misalnya :

Masuklah ke dalam kalau Anda perlu!

Silakan keluarlah jika ada yang mau dibeli!

Disilakan berangkat dahulu!

(4) Ajakan

Misalnya:

Marilah kita istirahat sejenak!

Mari kita bekerja sama-sama!

Ayo kita makan sama-sama!

(5) Larangan

Misalnya :

Jangan pergi hari ini!

Tidak boleh pergi pada tengah malam!

Jangan pergi ke pasar

(6) Bujukan:

Misalnya:

Tidurlah ibu menjagamu, sayang!

Makan bersama neneklah, nanti saya yang jaga di luar!

(7) Harapan

Misalnya:

Mudah-mudahan Anda selamat sampai di tujuan!

Kajian Bahasa Indonesia di SD 5- 15

Semoga Anda sehat al afiat!

Semoga Anda sukses selalu!

Kalimat seru

Kalimat seru adalah kalimat yang mengungkapkan perasaan kagum. Karena rasa kagum berkaitan dengan sifat, maka kalimat seru hanya dapat dibuat dari kalimat berita yang predikatnya adjektiva (Depdikbud, 1988).

Contoh:

Alangkah bebasnya pergaulan mereka!

Bukan main bodohnya anak itu!

Sungguh cerdas anak itu!

3. Kalimat majemuk

Kalimat majemuk adalah kalimat yang di dalamnya terdapat lebih dari satu pola kalimat, misalnya: SP + SP, SPO + SPO; atau kalimat yang di dalamnya terdapat induk kalimat (diterangkan) dan anak kalimat (menerangkan).

Contoh:

Saya minum teh dan bapak minum kopi. (majemuk setara)

Kami sedang makan ketika paman datang kemarin. (majemuk bertingkat)

Pak Bupati telah menyelenggarakan sebuah malam kesenian, yang dimeriahkan oleh para artis nasional, serta dihadiri para pejabat muspida. (majemuk campuran)

Kalimat majemuk menurut Keraf (1982) terdiri atas atas tiga jenis yakni:

(1) Kalimat majemuk setara

(2) Kalimat majemuk bertingkat

(3) Kalimat majemuk campuran

Kalimat majemuk setara

Kalimat majemuk setara terbagi atas empat jenis: yakni kalimat mejemuk setara penambahan, kalimat majemuk setara pemilihan, kalimat majemuk setara perlawanan, dan kalimat majemuk setara sebab.

(a) Kalimat majemuk setara penambahan ádalah kalimat majemuk setara yang menggunakan kata-kata penghubung: dan, lagi pula, serta. Misalnya:

Adi belajar IPS dan Erni belajar IPA.

Tuti sangat pintar mejahit lagi pula sangat baik budi

Muhaimin pergi ke pasar serta pergi ke kebun pada hari ini

(b) Kalimat majemuk setara pemilihan adalah kalimat majemuk setara yang menggunakan kata-kata pengubung atau, baikmaupun,

Misalnya:

Engkau mau pergi ke Jakarta atau mau pergi ke Semarang?

Pemerintah perlu meningkatkan mutu pendidikan, baik mutu pendidikan dasar-menengah maupun mutu pendidikan tinggi.

(c) Kalimat majemuk setara perlawanan adalah kalimat majemuk setara yang menggunakan kata penghubung: tetapi, namun, padahal.

Misalnya:

Dia mau belajar tetapi diberi hadiah dulu.

Meskipun sakit jantung, Ali tetap bekerja di bengkel.

Dia kelihatan sehat padahal memiliki penyakit kronis.

Alimuddin sering marah kepada siswanya namun demikian tidak sampai dalam hatinya.

(d) Kalimat majemuk setara sebab-akibat adalah kalimat majemuk setara yang menggunakan kata penghubung: sebab, karena, behubung, akiba.,

Misalnya

Saya tidak pergi karena sakit.

Kamaruddin tidak masuk bekerja sebab pergi ke kampungnya.

Hutan di hulu sungai Saddang sudah rusak total, akibatnya sering banjir di hilir

Kalimat majemuk bertingkat

Kalimat yang terdiri atas dua pola kalimat atau lebih, satu sebagai induk kalimat (diterangkan) dan satu sebagai anak kalimat (menerangkan). Atau, kalimat tunggal yang bagian-bagiannya diperluas sehingga perluasan itu membentuk satu atau beberapa pola kalimat baru, selain pola pola yang sudah

ada.

Misalnya:

Rumah kami kosong waktu pencuri masuk.

Pak tani yang rajin itu memberantas hama padi.

Kebersamaan sangat penting bagi rakyat Indonesia agar negara ini

semakin maju.

Kalimat majemuk campuran

Kajian Bahasa Indonesia di SD 5- 17

Kalimat majemuk campuran merupakan kalimat yang terdiri atas sebuah pola atasan dan sekurang-kurangnya dua pola bawahan, atau sekurangkurangnya dua pola atasan dan satu atau lebih pola bawahan (Keraf, 1981).

Misalnya:

Universitas Negeri makassar telah melaksanakan seminar nasional tentang peningkatan mutu pendidikan, yang dihadiri Menteri Pendidikan Nasional, Gubernur Sulawesi Selatan, pejabat tinggi lainnya, serta pencinta pendidikan di kota Makassar dan sekitarnya.

Bagaimana? Apakah sudah mempelajari dengan baik materi di atas? Kalau sudah, untuk lebih memantapkan pemahaman Anda terhadap materi subunit 1 ini cobalah kerjakan latihan berikut.

1. Tentukanlah berapa frase yang terdapat dalam kalimat berikut dan yang manakah frase nominal, frase verbal ,frase numeralia, dan frase preposisional! Lima pejabat tinggi telah mengungjungi kantor PGSD di Parepare.

2. Perhatikan kalimat berikut, yang mana klausa nominal, klausa verbal, klausa bilangan, dan klausa depan?

Ayahku sedang membersihkan halaman.

Beras kepala itu dari Banywangi.

Kursi itu empat kakinya.

Ibuku guru sekolah dasar

3. Tuliskan masing-masing satu contoh jenis kalimat: verbal ekatransitif, kalimat verbal dwitransitif, kalimat verbal semitransitif, kalimat ajektival, dan kalimat nominal!

Rambu-rambu pengerjaan latihan.

1. Untuk menyelesaikan tugas 1, akan mudah jika Anda mengikuti contoh cara menganalisis frase yang dikemukakan oleh Ramlan dan Supriyadi dkk. Baca kembali uraian tersebut dengan baik.

2. Tugas nomor 2 dapat Anda kerjakan jika memahami dengan baik defenisi kalimat secara umum. Begitu pula defenisi kalimat dalam wujud lisan dan dalam wujud tulisan. Masih ingat, bukan? Kalau belum, silakan baca kembali.

Rangkuman

Sintaksis ialah bagian atau cabang dari ilmu bahasa yang membicarakan seluk beluk wacana, kalimat, klausa, dan frase. Frase adalah kelompok kata yang mendududuki fungsi tertentu (subjek, predikat, pelengkap, objek, dan keterangan) dalam kalimat. Frase dilihat dari segi hubungan distribusi unsurunsurnya terdiri atas frase endosentrik (atributif, koordinatif, apositif) dan eksosentrik; frase dilihat dari segi kategori katanya terdiri atas empat macam frase: nominal, verbal, ajektival, numeralia, fromina. Klausa adalah satuan gramatik yang minimal terdiri atas subjek-predikat dan maksimal terdiri atas subjek, predikat, objek, dan keterangan dan mempunyai potensi sebagai kalimat. Klausa dilihat dari kategori kata yang menduduki predikat terdiri atas klausa verbal (ajektif, intransitif, aktif, pasif, dan resiprokal), klausa nominal, klausa bilangan, dan klausa depan.

Adapun kalimat adalah satuan bahasa yang secara relatif berdiri sendiri, mempunyai pola intonasi final dan secara aktual dan potensial terdiri dari klausa. Kalimat ditinjau dari segi jumlah pola struktur dikandungnya terdiri atas kalimat tunggal dan kalimat majemuk. Kalimat tunggal adalah kalimat yang hanya terdiri atas satu pola. Sedangkan kalimat majemuk adalah kalimat yang g terdiri atas dua pola atau lebih. Kalimat tunggal terdiri atas beberapa jenis, yakni kalimat nominal, kalimat verbal (intransitif, ekatransitif, dwritransitif, semi transitif, pasif) kalimat ajektival, kalimat preposisional. Dan kalimat tunggal ditinjau dari segi maknanya terdiri atas kalimat berita, tanya, dankalimat seru. Adapun jenis kalimat majemuk terdiri atas dua majenis, yakni kalimat majemuk setara (penjumlahan pertentang, pemilihan, sebab), kalimat mejemuk bertingkat dan kalimat majemuk bertingkat.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s