Program Langit Biru

Program Langit Biru

Harian Sinar Harapan 27 Agustus 2003 menurunkan berita akan diadakan gerakan ”Hari Tanpa Kendaraan Bermotor” (Car Free Day) pada 21 September 2003. Berita itu mengatakan kegiatan ini perlu karena udara bersih di Jakarta hanya 22 hari dalam setahun. Sasaran jangka panjangnya adalah perubahan kebijakan dalam manajemen transportasi guna menyeimbangkan proporsi kendaraan umum dan pribadi, kendaraan bermotor berorientasi rel dan jalan raya, serta kendaraan bermotor dan non motor. Jika tidak salah, program ini pernah dikampanyekan pada 22 April 2000 bertepatan Hari Bumi (Earth Day) dengan tema ”Sehari Tanpa Kendaraan Bermotor Pribadi.” Namun karena Hari Bumi tahun 2000 jatuh pada Sabtu, baru dilaksanakan Minggu 23 April 2000, dengan menghadirkan Wapres (saat itu) Megawati Soekarnoputri dan para pejabat lainnya. Hari Bumi yang sama saat itu juga diperingati di AS. Bintang film Titanic Leonardo DiCaprio yang ditunjuk sebagai Ketua Komite Perayaan Hari Bumi 2000 mewawancarai Bill Clinton tentang pemanasan global dalam acara ”Planet Earth 2000”, yang ditayangkan ABC News selama dua menit. Ternyata, kedua acara, baik di AS maupun di Indonesia, kurang mendapat perhatian. Wawancara DiCaprio mengundang sejumlah kritik, termasuk dari ABC News sendiri. Sementara di Indonesia, yang ketika itu sedang heboh soal kupon subsidi BBM dan rencana mogok massal pengusaha angkutan, tak ada reaksi masyarakat atas anjuran untuk tidak menggunakan kendaraan pribadi pada hari tersebut. Erna Witoelar, aktivis lingkungan hidup yang saat itu menjabat Menteri Kimpraswil, justru berada di tengah masyarakat adat Dayak Ngaju dan transmigran asal Jawa di lokasi Proyek Lahan Gambut sejuta hektare yang menghebohkan itu. Kota Tercemar Pencemaran akibat asap buangan kendaraan bermotor maupun industri memang merupakan konsekuensi logis dari peningkatan taraf hidup manusia perkotaan. Bagi masyarakat Kota Jakarta yang cepat, faktor produktivitas merupakan kata kunci, kemudian mendorong pula semangat konsumsi, yang jika kurang kendali dapat cenderung berlebihan (over consumption), termasuk konsumsi energi di sektor transportasi. Penelitian UNEP (United Nation for Environment Program) tahun 1995 menyebutkan Jakarta sebagai kota ketiga tercemar di dunia setelah Meksiko dan New Delhi. Sementara Bank Dunia dalam laporannya Indonesia Enviroment and Development: Challenges for the Future tahun 1994 menyebutkan, penyumbang terbesar pencemaran udara di Jakarta adalah kendaraan bermotor. Kondisi ini masuk akal karena kompoisi kendaraan di Indonesia kini diperkirakan 2.877.305 kendaraan penumpang, 1.609.440 kendaraan muatan, 633.368 bis kota dan 12.877.527 sepeda motor, dimana sebagian besar beroperasi di Jakarta. Data yang pernah dikeluarkan Biro Lingkungan Hidup DKI menyebutkan kontribusi sektor transportasi terhadap total pencemaran udara yang disebabkan asap knalpot mencapai 66,34%, industri 18,90%, pemukiman 11,21% dan sampah 3,68%. Berdasar bahwa jumlah dan jenis emisi lebih dipengaruhi banyaknya kendaraan bermotor, baik buruknya pemeliharaan mesin, arus lalu lintas, jenis bahan bakar yang dipakai, serta minimnya ruang terbuka hijau, dapat dibayangkan berapa juta volume karbon dioksida menetap di udara bila jumlah kendaraan bermotor meningkat 6–8% setiap tahun dan penggunaan bahan bakar meningkat 4% per tahun. Meningkatnya penggunaan bahan bakar selain membentuk lapisan karbon dioksida di udara, juga mengakibatkan tekanan udara bertambah tinggi dan iklim semakin panas. Bila ruang terbuka hijau kian dipersempit, pohon-pohon ditebang untuk keperluan jalan tol, dan gedung pencakar langit terus dibangun, maka terjadi penguapan karbon dioksida semakin deras ke udara. Sehubungan dengan hal ini, beberapa pakar lingkungan dunia mengatakan jumlah karbon dioksida yang dihasilkan sama banyaknya dengan tuntutan penggunaan bahan bakar. Karbon dioksida tidak menghalangi sinar matahari mencapai bumi, tetapi justru menahan pantulan panas matahari kembali ke udara. Inilah greenhouse effect (efek rumah kaca) yang selalu ditunggu dengan penuh rasa cemas. Pengurangan emisi karbon hingga kini masih diperdebatkan. Negara berkembang meminta agar negara industri maju memelopori pengurangan emisi karbon. Sementara yang bersangkutan justru memanfaatkan ketidakkompakan negara berkembang dalam hal kebijakan energi nasionalnya. Di satu pihak negara industri maju menganggap perlu negara berkembang mengurangi laju konsumsi energi. Di lain pihak mereka justru menganjurkan agar negara berkembang terus meningkatkan konsumsi minyak bumi karena berkaitan erat dengan tingkat pertumbuhan ekonomi dan perluasan lapangan kerja. Kenyataan sejauh ini, AS pada Konvensi Perubahan Iklim di Jepang tahun 1997 hanya mengatakan bersedia menstabilkan emisinya tahun 2010. Sementara Jepang bersedia menurunkan emisi 5 persen, Uni Eropa 15 persen, negara G-77 sebanyak 7,5% dan Cina 15%. Padahal, tuntutan LSM internasional agar tingkat emisi gas buang dikurangi hingga 20% pada tahun 2000. Upaya Penanggulangan Di Indonesia, upaya penanggulangan akibat pencemaran udara dilakukan antara lain dengan merujuk pada UU No. 23 tahun 1997 tentang pengendalian pencemaran udara (Program Langit Biru), prosedur AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan) dan Penataan Ruang. Mengingat pencemaran udara di kota besar lebih disebabkan kendaraan bermotor, upaya mengatasinya dapat dilakukan berbagai cara. Misalnya dengan mmperlebar jalan, mengatur keseimbangan lalu lintas, memilih jenis kendaraan yang tingkat emisinya paling sedikit, membagi jam puncak (peak-hours), menambah transportasi massal dan memperbaiki layanannya, melaksanakan UU yang ada atau memakai bahan bakar alternatif BBM yang tingkat emisinya lebih sedikit dan ekonomis. Di lain pihak, keinginan Pemda DKI Jakarta untuk memberlakukan pembatasan mobil pribadi (SH, 12/5/ 2003) secara kombinasi dengan memperpanjang waktu three in one untuk koridor tertentu, atau diluar itu diterapkan berdasar plat nomor belakang, patut didukung semua pihak. Langit Biru Kembali pada judul tulisan diatas, betapa pun, Program Langit Biru perlu dilanjutkan mengingat sudah berjalan cukup lama. Program ini pulalah yang mendorong Pemda DKI melalui Biro Lingkungan Hidup untuk mengadakan uji petik emisi kendaraan bermotor pertama kali pada tahun 1996. Pengujian saat itu dilakukan terhadap kendaraan yang melebihi baku mutu emisi (BME, baku mutu emisi CO 4,5% dan HC 1.200 ppm), dikenakan sanksi stiker merah dan kewajiban memperbaiki emisi dalam waktu tiga hari yang dikaitkan dengan perpanjangan STNK. Sedang mobil dengan buangan gas tidak melampaui ambang batas dipasang stiker warna hijau dan diberi hadiah. Pengujian ini merupakan keprihatian Pemda DKI terhadap kesehatan masyarakat sekaligus memberi informasi agar pihak berwenang dapat mengambil langkah-langkah preventif. Memberi komentar terhadap dampak polutan terhadap kesehatan masyarakat, Prof. Dr. Umar Fahmi Achmadi, Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat UI pernah mengatakan dampak pencemaran udara terutama ke saluran pernapasan, selain paparan Pb bisa menurunkan IQ anak-anak. Meningkatnya jumlah pencemaran menurut Umar seharusnya bisa dilihat, apakah jumlah orang yang menderita saluran pernapasan, batuk, pilek terus meningkat dibanding tahun sebelumnya. Karena itu, program-program yang ditawarkan untuk melindungi masyarakat perlu dipertimbangkan dengan kondisi nyata di lapangan, tidak hanya kesehatan tetapi juga beban ekonomi yang kian berat. Diperlukan ketegasan untuk menetapkan standar kualitas udara secara nasional, standar emisi gas buang kendaraan bermotor serta kebijakan energi yang baku. Menetapkan konsep diversifikasi energi di sektor transportasi dengan menggunakan bahan bakar gas sebagai alternatif BBM perlu diberi kesempatan untuk dikembangkan mengingat daya dukung teknologi serta sumber gas yang tersedia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s